Ini Profil KH Marzuki Mustamar yang Digadang-gadang PKB Jadi Rival Khofifah di Pilgub Jatim 2024

- 29 Mei 2024, 16:15 WIB
KH Marzuki Mustamar
KH Marzuki Mustamar /PWNU Jatim/IST


INTUISI, PIKIRAN-RAKYAT - Menurut Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Syaiful Huda bahwa partai-nya sudah menyiapkan nama eks Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar sebagai salah satu opsi diusung pada Pilgub Jatim 2024.

"Untuk calon kita ada Kiai Marzuki Mustamar, termasuk kalau (calon kandidat) perempuan kami juga sedang siapkan," kata ata Huda di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 22 Mei dikutip dari ANTARA, Rabu, 29 Mei 2024.

Nah siapa sebenarnya sosok KH Marzuki Mustamar? Berikut profil KH Marzuki Mustamar yang dillanisr dari situs PWNU JATIM, Rabu, 29 Mei 2024.

Baca Juga: Pilgub JATIM! NasDem Masih Pikir-pikir Gabung Khofifah-Emil atau PKB di Pilkada Jatim 2024

Kelahiran

KH Marzuki Mustamar lahir di Blitar pada 22 September 1966. Sungguh beruntung Kiai Marzuki karena dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama.

Ya, abahnya adalah seorang kyai. Alhasil, sejak kecil Kiai Marzuki dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tua beliau dengan disiplin ilmu yang tinggi.

Di bawah pengawasan orang tua beliau inilah putra dari Kiai Mustamar dan Nyai Siti Jainab ini mulai belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.

Keluarga

Pada tahun 1994, KH Marzuki Mustamar memulai hidup baru. Beliau mempersunting salah seorang santriwati Pondok Nurul Huda yang bernama Saidah.

Sang istri merupakan putri Kiai Ahmad Nur yang berasal dari Lamongan. KH Marzuki Mustamar sangat bersyukur sekali sebab gadis yang menjadi pendamping hidup beliau adalah seorang hafidzoh (hafal Al-qur’an).

Pendidikan

Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi ternyata beliau waktu kecil sudah dididik tentang kemandirian. Itu agar dia memiliki etos kerja yang tinggi dengan cara memelihara kambing dan ayam petelur milik Bu Lik Umi Kultsum.

Dengan memelihara kambing dan ayam petelur inilah, beliau mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat Islam, dan bagaimana menjadi pemimpin.

Pendidikan Dini

Saat duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah sampai sebelum belajar di Malang, anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai belajar ilmu nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih kepada Kyai Ridwan dan Kyai-Kyai lain di Blitar.

Sejak SMP, beliau diminta mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil lainnya kepada anak-anak dan tetangganya. Pada usia yang masih belia tersebut, dirinya sudah mengkhatamkan dan faham kitab Mutammimah pada saat beliau kelas 3 SMP.

Selepas dari SMP Hasanuddin, beliau melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. KH Marzuki Mustamar muda merupakan pemuda yang beruntung sebab di usia muda sudah mendalami ilmu agama ke beberapa orang kyai di Blitar.

Di antaranya, mendalami ilmu balaghoh dan ilmu mantiq kepada Kiai Hamzah. Mendalami ilmu fikih kepada Kiai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kapada Kiai Hasbullah Ridwan.

Baca Juga: Pilgub JATIM! Gerbong Khofifah-Emil vs Koalisi PKB-PKS Meruncing di Pilkada Jatim, Potensi 2 Poros Saja?

Ketika duduk di bangku Aliyah, ia sudah khatam kitab Hadits Muslim dan kitab-kitab kecil lainnnya. Kiai Hamzah dan Kiai Mujib adalah guru besarnya beliau di MAN Tlogo.

Setamat dari MAN Tlogo pada tahun 1985, Kiai kelahiran 22 September 1966 ini melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) Malang.

Yang mana masih merupakan cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk menambah ilmu agama yang sudah beliau dapat, Kiai yang juga Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang ini nyantri kepada KH A Masduqi Machfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono.

Mengetahui kecerdasan dan keilmuan Kiai Marzuqi yang di atas rata-rata santrinya yang lain, akhirnya Kiai Masduki memberi amanah kepada Kiai Marzuki untuk membantu mengajar di pesantrennya.

Meskipun saat itu Kiai Marzuki masih berusia 19 tahun. “Saat itu saya diminta untuk mengajar kitab Fathul Qorib bab buyuu’ (jual-beli),” Kenang kiai yang juga Dosen Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

Berguru pada KH Masduqi Mahfudz

Selain itu, KH Marzuki Mustamar juga beruntung karena beliau seringkali diminta untuk mendampingi dakwah KH A Masduqi Machfudz saat mengisi pengajian maupun dalam rapat-rapat organisasi kemasyarakatan.

Dari sinilah Kiai Marzuki mulai mengetahui betapa beratnya tugas seorang ulama dalam mengayomi umat. Dari gurunya yang juga Rois Syuriah NU Wilayah Jawa Timur itu dia belajar akan keistiqomahan menjadi seorang guru.

Salah satu kelebihan beliau saat masih duduk di bangku kuliah, Kiai Marzuki sudah biasa memberikan kursus nahwu kepada mahasiswa juniornya.

Namun, ternyata, banyak juga mahasiswa yang tidak hanya belajar nahwu, namun juga mengaji kitab kepadanya. Dengan begini, keilmuan beliau semakin terasah.

Kemudian pada tahun 1987 Kiai berputra tujuh ini mendapatkan kesempatan belajar di LIPIA Jakarta. Setelah menempuh dua tahun masa studinya di sana, ia kembali ke Malang untuk membantu mengajar di pesantren Nurul Huda, Mergosono dan melanjutkan kuliah S-1.

Baca Juga: Pilgub JATIM! Paket Koalisi PKB-PKS Ancang-ancang Hadapi Khofifah-Emil di Pilkada Jatim 2024

Jasa dan Karya

Selang satu bulan setelah menikah, KH Marzuki Mustamar bersama istri mencoba mengadu nasib dan hidup mandiri. Saat itu dia memilih daerah Gasek, Kecamatan Sukun sebagai tempat jujugan beliau.

Pada mulanya, beliau mencari rumah kontrakan yang dekat dengan masjid. Dan akhirnya, beliau ngontrak di rumah salah seorang warga yang bernama pak Har.

Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, Kiai Marzuki akhirnya menempati tempat yang baru. Pada saat beliau boyongan, tak lupa santri-santri Pondok Nurul Huda ikut mengantarkan Kiai Marzuki boyongan ke tempat barunya dan membantu usung-usung barang-barang dan kitab-kitab guru mereka.

Tanpa diduga sebelumnya, pada hari pertama beliau menempati rumah itu, ternyata sudah banyak santri yang datang mengaji kepada beliau.

Di rumah yang sederhana itulah Kiai Marzuki mengajar para santri beliau. Mereka yang waktu itu belajar merupakan cikal bakal santri dan pesantren beliau yang kini menjadi benteng utama umat di wilayah Gasek.

Karena santrinya semakin bertambah banyak maka rumah beliau tidak memadai sebagai tempat belajar mereka. Namun, alhamdulillah, Allah SWT memberikan jalan.

Waktu itu di daerah Gasek sudah ada Yayasan Sabilurrosyad yang sudah memiliki lahan luas. Namun, setelah beberapa tahun didirikan Yayasan ini belum bisa berkiprah secara optimal.

Akhirnya Kiai Marzuki bekerjasama dengan Yayasan Sabilurrosyad mendirikan sebuah pesantren dengan Nama Sabilurrosyad.

Aktivitas

Selain sibuk membimbing para santri, kyai yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang ini juga disibukkan dengan urusan umat.

Tiada hari tanpa memberikan pengajian atau mauidzhoh kepada umat. Mulai mengisi pengajian dari masjid ke masjid, blusukan keliling kampung dan lain sebagainya.

Saat ini, KH Marzuki Mustamar juga aktif di berbagai organisasi keagamaan di antara sebagai Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang dan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang.

Kedalaman ilmunya sangat dirasakan oleh umat. Sebagai contoh beliau menyusun sebuah kitab, tentang dasar-dasar atau dalil-dalil amaliyah yang dilakukan oleh warga nahdhiyyin.

Melalui kitab ini, Kiai Marzuki ingin membuka mata umat bahwa amalan mereka ada dasar hukumnya, sekaligus menjawab tuduhan-tuduhan orang-orang yang tidak setuju dengan sebagian amaliyah warga Nahdhiyyin.

Baca Juga: Pilgub JATIM 2024! Ini 3 Kriteria Cagub Jatim Versi Cak Imin, Khofifah Masuk Radar?

Saking hebat dan lugasnya beliau menerangkan itu semua, sampai-sampai Kiai Baidhowi, Ketua MUI Kota Malang memberi julukan “Hujjatu NU”. “Kalau Imam al-Ghozali dikenal sebagai Hujjatul Islam, maka Kyai Marzuki ini Hujjatu NU” demikian pernyataan Kiai Baidhowi dalam beberapa kesempatan.

Meski kegiatan beliau sangat padat, namun, Kiai yang juga penasehat FKUB ini tetap berusaha untuk menjadi orangtua yang baik. Beliau begitu dekat dan akrab dengan anak-anak beliau yang masih kecil-kecil itu.

Tak jarang pula, beliau ikut mengantarkan atau menjemput putra putri beliau sekolah. Dari pernikahan dengan Bu Nyai Saidah, Kiai marzuqi dikaruniai tujuh anak. Dua laki-laki dan lima perempuan. Semua putra-putrinya disekolahkan di SD Sabilillah Blimbing.

Kecerdasan Kiai Marzuqi sepertinya menurun kepada putra-putrinya, terbukti dengan nilai mereka yang seringkali mendapat nilai sempurna termasuk pelajaran eksakta.

Bahkan beberapa waktu yang lalu putri beliau menjadi juara Olimpiade Matematika di Yogyakarta dan kini sekolah di SMP Internasional PASIAD milik negara Turki.

Karakter Sederhana

Penampilannya sederhana dan apa adanya. Beliau tidak pernah neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak mengira bahwa beliau adalah seorang kiai.

Di balik kesederhanaan beliau tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah beliau di masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Gaya bicara beliau yang tegas dan lugas menjadi salah satu ciri khas beliau. ***

Editor: Busrah Hisam A

Sumber: PWNU Jatim


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah